Seminar Nasional Tanggal 14 November
Seminar
nasional diawali dengan parade marawis yang dipersembahkan oleh
mahasiswa PMI semester 1. Sehingga kesan seminar yang “berat” menjadi
jauh lebih ringan karena ada selingan hiburan tersebut.
Acara
dimulai tepat jam 9 dengan pembukaan oleh Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan
Ilmu Komunikasi, Dr. Arief Subhan MA. Para pembicara sudah hadir 3
orang, yaitu Dr. Harry Hikmat (Kemensos), Dr. Kanya EKa Santi (STKS
Bandung), dan Budi Baik Siregar M.Si dari CSR.
Dr. Arief Subhan
memaparkan posisi studi dan konstruksi Jurusan PMI dalam sistem sosial
dan keislaman Indonesia. Secara historis, Dekan menjelaskan cukup detil
dan mendalam mengenai PMI ini, baik dari sisi struktural maupun dari
sisi tradisi keilmuan.
Setelah Dekan membuka acara, selanjutnya
sambutan disampaikan oleh Ketua Jurusan PMI, Wati Nilam Sari, M.Si.
Kajur dan juga ketua panitia ini menjelaskan berbagai hasil pertemuan
jurusan yang menghasilkan dua lembaga yang berkaitan dengan PMI, serta
kepentingan acara seminar yang bertajuk substansi kurikulum ini.
Setelah
sambutan Kajur, acara kembali diselingi oleh penampilan mahasiswa PMI 1
yang membawakan Hadro. Hadro adalah kesenian yang materi-materinya
memuat syiar-syiar keislaman.
Acara selanjutnya diambil alih oleh Moderator Tantan Hermansah M.Si.
A. Presentasi 1: Dr. Harry Hikmat
Dr.
Harry Hikmat menjelaskan filosofi serta beragam sistem yang melahirkan
pekerja sosial untuk Indonesia. Apalagi perspektif yang dipergunakan
tetap menggunakan cara pandang pekerja sosial.
Dr. Harry Hikmat
juga menjelaskan problematika dan dinamika lulusan PMI yang ketika
melamar calon PNS akhirnya tertolak secara administrasi. Selanjutnya
dengan cukup detil, dijelaskan bagaimana konstelasi yang berlaku di
kementerian sosial—tempatnya bekerja—yang terkait dengan pekerja sosial.
B. Presentasi 2: Dr. Kanya Eka Santi
Dr.
Kanya Eka menjelaskan pengalamannya di STKS dalam membangun struktur
kurikulum. Sehingga dari struktur kurikulum yang dibangun tersebut,
akhirnya melahirkan profesi pekerja sosial.
Dari kasus STKS, Dr.
Kanya juga menjelaskan bahwa sebaiknya PMI menjelaskan arah dari materi
kurikulum tersebut dengan lebih detil dan jeli. Sebab jika melihat
kurikulumnya, materi yang ada di PMI Jakarta, maupun PMI UIN Yogyakarta,
isinya hampir mirip dengan kurikulum di STKS.
Dari sini maka
perlu ditegaskan kembali bagaimana sebenarnya konteks PMI itu
disekajarkan dengan lulusan STKS atau PT lain yang menghasilkan pekerja
sosial.
C. Presentasi 3: Budi Baik Siregar
Budi Baik
Siregar adalah professional pengembang masyarakat yang sudah bekerja 20
tahun di bidang comdev. Ia mengemukakan bahwa sepanjang bekerja di
perusahaan menangani persoalan kemasyarakatan ini, ia jarang bisa
mendapatkan pekerja yang mengerti langsung mengenai comdev. Sebab
kebanyakan yang masuk di sektor tersebut adalah alumni-alumni yang
berlatar belakang tehnik.
Oleh karena itu Budi mengharapkan benar
bahwa kelak, ia bisa bekerja sama dengan alumni PMI yang siap bekerja
keras untuk terlibat dengan pengebangan masyarakat di sekitar kawasan
tambang, perkebunan, dan sebagainya, yang selama ini sangat minim
sumberdaya.
Budi menekankan juga bahwa kesempatan untuk berkiprah
itu bukan hanya PNS. CSR di perusahaan memerlukan ribuan orang yang
memiliki kapasitas pemberdayaan ini.
D. Presentasi 4: Dr. Ivannovich Agusta
Presentasi
keempat oleh Dr. Ivanovich Agusta menekankan kritis perbaikan pada
kurikulum PMI. Dalam telaahannya, ia melihat bahwa kurikulum PMI sudah
cukup mengarah kepada kurikulum yang baik, mengacu kepada pedoman KNSI,
dan cukup punya identitas.
Namun demikian, berbagai perbaikan
perlu dilakukan. Terutama menyangkut referensi utama dalam konteks
pengembangan masyarakat. Pentingnya hal ini dilakukan karena PMI harus
memiliki benchmarking kelembagaan. Dengan benchmarking ini maka menjadi
jelas arah dan outputnya.
***
Selanjutnya acara diteruskan
dengan sesi tanya jawab. Ada 5 penanya yang diberikan kesempatan untuk
mengemukakan pernyataan dan pertanyaan. Para penanya mulai menanyakan
beragam masalah seperti pekerjaan yang bisa dilakukan oleh lulusan PMI,
sampai kepada bagaimana caranya agar menjadi mahasiswa PMI itu bisa
percaya diri.
Sambutan dari penanya itu pun kemudian disambut
oleh para pemateri dengan tidak kalah antusias. Sakin bersemangatnya,
para pemateri itu umumnya keluar dari tempat duduk dan presentasi dengan
cara berdiri. Sehingga interaksi antar pemateri dan peserta seminar
menjadi sangat dinamis.
Karena antusiasme yang kuat, acara yang
seharusnya selesai jam 12.30 (sesuai dengan jadual) akhirnya molor
sampai jam 13.00. Namun demikian, mereka tetap antusias dengan kegiatan
yang baik dan membantu ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar