Senin, 09 Desember 2013

Catatan Seminar PMI tanggal 14 November 2013

Seminar Nasional Tanggal 14 November
 
Seminar nasional diawali dengan parade marawis yang dipersembahkan oleh mahasiswa PMI semester 1. Sehingga kesan seminar yang “berat” menjadi jauh lebih ringan karena ada selingan hiburan tersebut.

Acara dimulai tepat jam 9 dengan pembukaan oleh Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Dr. Arief Subhan MA. Para pembicara sudah hadir 3 orang, yaitu Dr. Harry Hikmat (Kemensos), Dr. Kanya EKa Santi (STKS Bandung), dan Budi Baik Siregar M.Si dari CSR.

Dr. Arief Subhan memaparkan posisi studi dan konstruksi Jurusan PMI dalam sistem sosial dan keislaman Indonesia. Secara historis, Dekan menjelaskan cukup detil dan mendalam mengenai PMI ini, baik dari sisi struktural maupun dari sisi tradisi keilmuan.

Setelah Dekan membuka acara, selanjutnya sambutan disampaikan oleh Ketua Jurusan PMI, Wati Nilam Sari, M.Si. Kajur dan juga ketua panitia ini menjelaskan berbagai hasil pertemuan jurusan yang menghasilkan dua lembaga yang berkaitan dengan PMI, serta kepentingan acara seminar yang bertajuk substansi kurikulum ini.

Setelah sambutan Kajur, acara kembali diselingi oleh penampilan mahasiswa PMI 1 yang membawakan Hadro. Hadro adalah kesenian yang materi-materinya memuat syiar-syiar keislaman.

Acara selanjutnya diambil alih oleh Moderator Tantan Hermansah M.Si.
A.    Presentasi 1: Dr. Harry Hikmat

Dr. Harry Hikmat menjelaskan filosofi serta beragam sistem yang melahirkan pekerja sosial untuk Indonesia. Apalagi perspektif yang dipergunakan tetap menggunakan cara pandang pekerja sosial.

Dr. Harry Hikmat juga menjelaskan problematika dan dinamika lulusan PMI yang ketika melamar calon PNS akhirnya tertolak secara administrasi. Selanjutnya dengan cukup detil, dijelaskan bagaimana konstelasi yang berlaku di kementerian sosial—tempatnya bekerja—yang terkait dengan pekerja sosial.
B.    Presentasi 2: Dr. Kanya Eka Santi

Dr. Kanya Eka menjelaskan pengalamannya di STKS dalam membangun struktur kurikulum. Sehingga dari struktur kurikulum yang dibangun tersebut, akhirnya melahirkan profesi pekerja sosial.

Dari kasus STKS, Dr. Kanya juga menjelaskan bahwa sebaiknya PMI menjelaskan arah dari materi kurikulum tersebut dengan lebih detil dan jeli. Sebab jika melihat kurikulumnya, materi yang ada di PMI Jakarta, maupun PMI UIN Yogyakarta, isinya hampir mirip dengan kurikulum di STKS.

Dari sini maka perlu ditegaskan kembali bagaimana sebenarnya konteks PMI itu disekajarkan dengan lulusan STKS atau PT lain yang menghasilkan pekerja sosial.
C.     Presentasi 3: Budi Baik Siregar

Budi Baik Siregar adalah professional pengembang masyarakat yang sudah bekerja 20 tahun di bidang comdev. Ia mengemukakan bahwa sepanjang bekerja di perusahaan menangani persoalan kemasyarakatan ini, ia jarang bisa mendapatkan pekerja yang mengerti langsung mengenai comdev. Sebab kebanyakan yang masuk di sektor tersebut adalah alumni-alumni yang berlatar belakang tehnik.

Oleh karena itu Budi mengharapkan benar bahwa kelak, ia bisa bekerja sama dengan alumni PMI yang siap bekerja keras untuk terlibat dengan pengebangan masyarakat di sekitar kawasan tambang, perkebunan, dan sebagainya, yang selama ini sangat minim sumberdaya.

Budi menekankan juga bahwa kesempatan untuk berkiprah itu bukan hanya PNS. CSR di perusahaan memerlukan ribuan orang yang memiliki kapasitas pemberdayaan ini.
D.    Presentasi 4: Dr. Ivannovich Agusta

Presentasi keempat oleh Dr. Ivanovich Agusta menekankan kritis perbaikan pada kurikulum PMI. Dalam telaahannya, ia melihat bahwa kurikulum PMI sudah cukup mengarah kepada kurikulum yang baik, mengacu kepada pedoman KNSI, dan cukup punya identitas.

Namun demikian, berbagai perbaikan perlu dilakukan. Terutama menyangkut referensi utama dalam konteks pengembangan masyarakat. Pentingnya hal ini dilakukan karena PMI harus memiliki benchmarking kelembagaan. Dengan benchmarking ini maka menjadi jelas arah dan outputnya.

***

Selanjutnya acara diteruskan dengan sesi tanya jawab. Ada 5 penanya yang diberikan kesempatan untuk mengemukakan pernyataan dan pertanyaan. Para penanya mulai menanyakan beragam masalah seperti pekerjaan yang bisa dilakukan oleh lulusan PMI, sampai kepada bagaimana caranya agar menjadi mahasiswa PMI itu bisa percaya diri.

Sambutan dari penanya itu pun kemudian disambut oleh para pemateri dengan tidak kalah antusias. Sakin bersemangatnya, para pemateri itu umumnya keluar dari tempat duduk dan presentasi dengan cara berdiri. Sehingga interaksi antar pemateri dan peserta seminar menjadi sangat dinamis.

Karena antusiasme yang kuat, acara yang seharusnya selesai jam 12.30 (sesuai dengan jadual) akhirnya molor sampai jam 13.00. Namun demikian, mereka tetap antusias dengan kegiatan yang baik dan membantu ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar